Ingkung gunung kulon progo

Gundana

Bantul

Di hari terakhir tahun 2019 silam, Presiden Jokowi singgah ke Rumah Makan Mbah Geol menyantap ayam ingkung dan pepes. Apa istimewanya hidangan khas Bantul ini?

Pada tanggal 31 Desember 2019, usai meresmikan Bendung Kamijoro, di Tepi Sugai Progo di Sentolo, Kulon Progo. Presiden Jokowi menyempatkan diri mampir ke Rumah Makan Sop Iga & Ingkung Mbah Geol di Pedukuhan Semampir, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lokasi resto Mbah Geol, cukup strategis dan mudah dijangkau. Dari pusat kota Yogyakarta hanya berjarak sekitar 15 kilometer ke arah barat menuju ke jalan Wates. Begitu sampai di perempatan Sedayu,Bantul langsung belok kiri sejauh 200 meter. Terletak di kiri jalan, warung ini cukup menonjol dengan bangunan joglo di bagian depan.

Ayam Ingkung Mbah Geol yang Pernah Dicicipi Presiden Jokowi

Foto: Sayoto Ashwan/dok. detikcom

Begitu masuk, restoran ini menyediakan meja unik yang terbuat dari kayu yang cukup besar. Foto beberapa pejabat dari Presiden, Kapolda hingga Sultan Hamengkubuwono dan GKR Hemas ikut dipajang di sisi dinding.

Bagi yang datang beramai-ramai bisa bersantap di sisi belakang berupa area lesehan yang cocok untuk makan bersama. Tepat di bawah lesehan ini terdapat kolam ikan dengan aneka jenis ikan.
Udara di tempat ini juga cukup segar dan nyaman, dikelilingi persawahan, yang memberi suasana semakin asri. Apalagi sang pemilik juga menempatkan beberapa jenis tanaman bonsai.

“Kita buka sejak Mei 2018 dengan menu unggulan pepes ikan, ingkung dan sop iga serta iga bakar,”jelas Hilda Arista sang pemilik resto kepada detik.com, Minggu (26/1/2020).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ayam Ingkung Mbah Geol yang Pernah Dicicipi Presiden Jokowi

Foto: Instagram ingkungpepesmbahgeol

Menu ini menjadi unggulan karena rasanya yang sekelas dengan masakan hotel berbintang. Menggunakan ikan segar menjadi pepes ini semakin nikmat untuk disantap. Begitu juga ingkung, menggunakan ayam Jawa asli yang dimasak dengan cara diungkep. Hasilnya dagingnya cukup empuk dan lembut dengan balutan bumbu yang gurih mantap.

Ayam Ingkung autentik Jawa memakai ayam kampung yang baru dipotong. Bagian perutnya diisi dengan kelapa parut dan bumbu lalu dimasak utuh hingga daging ayam menjadi lembut dengan rasa opor yang meresap.

BACA JUGA:   Wisata edukasi anak paud di bandung

Sebelum dikunjungi Presiden Jokowi, warung ini dalam satu hari hanya mampu menjual 10 sampai 20 ekor ayam. Namun saat ini rata-rata mencapai 30 ekor. Belum ketika long weekend, bisa mencapai 40-60 ekor. Begitu juga dengan pepes ikan nila juga melonjak dari 20 menjadi 50 ekor per hari.

Ayam Ingkung Mbah Geol yang Pernah Dicicipi Presiden Jokowi

Foto: dok. detikcom

“Kita cukup merasakan Jokowi Effect, banyak yang penasaran dan berkunjung kesini,”tuturnya. Tidak hanya dari sekitar Yogyakarta, namun juga dari Magelang, Wonosobo, Kebumen hingga Purwokerto datang ke tempat ini.

Resep makanan ini, merupakan resep turun temurun dari mendiang Mbah Geol dengan dilakukan inovasi. Apalagi sang chef Hendri Prasetyo (30), merupakan jebolan dari Hotel berbintang di Yogyakarta. Tak ayal suami dari Hilda ini, menjadi kunci utama aneka menu di rumah makan ini termasuk tampilan dalam setiap penyajian.

“Untuk menjamin rasa, kita tangani langsung dalam memasaknya. Apalagi beberapa bumbu Jawa itu harus pas,” jelas Hendri. Menu yang disajikan inipun dijamin aman dan bebas dari aneka jenis pengawet.

Ayam Ingkung Mbah Geol yang Pernah Dicicipi Presiden Jokowi

Foto: Istimewa

Bulan Desember lalu sebelum presiden menyantap, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) setiap hari mengecek dan menguji secara laboratorium terhadap semua masakannya. Menurut Hilda, Presiden Jokowi cukup menikmati menu yang mereka sajikan. Hampir dari semua menu dicicipi presiden, khususnya sup iga, pepes dan ingkung.

“Beliau (presiden) mengatakan suasana desa seperti ini yang dicari dengan menu dan citasarasa yang mantap,”pungkas Hilda.

Salah satu pengunjung Dyah Purwitasari mengaku sebelum dikunjungi presiden, ia sudah dua kali bersantap di tempat ini. Dia paling suka iga bakarnya yang empuk dan bumbunya meresap. Begitu juga dengan ingkungnya, berbeda dengan ingkung yang ditawarkan restoran lain.

Ayam Ingkung Mbah Geol yang Pernah Dicicipi Presiden Jokowi

Foto: Instagram ingkungpepesmbahgeol

“Rasanya memang pas, dan tidak salah kalau pak Presiden sampai ke sini mencoba,” terangnya.

Rumah makan ini buka mulai jam 10.00 pagi dan tutup jam 21.00 malam. Tetapi bisa juga sebelum jam 21.00 tutup jika menu yang ditawarkan sudah habis.

BACA JUGA:   Tempat Wisata Majalengka yang Menyediakan Akomodasi

Simak Video “

Melihat Produksi Mie Lethek, Kuliner Khas Yogyakarta


[Gambas:Video 20detik]
(adr/odi)

PURWOREJO, KOMPAS.com – Merti Desa (Bersih Desa) merupakan acara tradisional peninggalan dari nenek moyang secara turun temurun terus dilestarikan di desa–desa yang ada di Purworejo, Jawa Tengah.

Seperti halnya yang dilakukan di Desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Senin (18/7/2022). Menjadi hal wajib yang harus ada dalam kegiatan ini salah satunya adalah Kirab Ingkung (Ayam Panggang).

Kegiatan yang dilaksanakan tiga tahun sekali ini terakhir dilakukan sebelum pandemi Covid-19, dengan sajian ingkung kurang lebih mencapai 7.500 potong.

Baca juga: Ritual Seblang, Tradisi Bersih Desa dan Menolak Bala oleh Suku Osing Banyuwangi

Saat pandemi seperti ini, kegiatan merti desa Gunung Condong tetap dilaksanakan untuk menjaga tradisi namun dilakukan secara terbatas dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Betu Sukiman selaku ketua panitia menjelaskan, berbeda dengan peringatan sebelumnya, merti desa tahun ini digelar sangat terbatas karena mengingat masih masa wabah.

Ia menyebut Merti Desa kali ini bertujuan untuk melestarikan adat istiadat dari para leluhur. Kirab ingkung tetap diadakan namun jumlahnya Ingkungnya jauh menurun dibanding Merti Desa sebelum pandemi.

“Saya berharap dengan Merti Desa masyarakat diberikan keselamatan lahir dan batin, serta guyup rukun, gemah ripah loh jinawi,” katanya usai kegiatan.

Acara bersih desa diawali dengan ritual yang dilakukan oleh para sesepuh desa, yaitu ziarah ke beberapa punden atau makam leluhur yang selama ini jadi simbol pusat spiritual masyarakat setempat.

Meski digelar secara terbatas, Merti Desa Gunung Condong tetap meriah dengan hadirnya Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Kepala Dinporapar Stephanus Aan Isa Nugroho, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Forkopimcam, serta tokoh masyarakat setempat.

Baca juga: Sultan HB X Minta Kirab Peringatan Penobatan Dialihkan Jadi Acara Bersih Desa

Setelah ziarah, warga beramai-ramai mengarak Ingkung yang disusun dipapan bambu dipadukan dengan hasil bumi masyarakat desa.

BACA JUGA:   Wisata Alam Dekat Bromo: Keindahan Alam yang Menakjubkan di Sekitar Gunung Bromo

Ingkung atau ayam panggang dan hasil bumi tersebut disusun rapi hingga menjadi bentuk ambeng, atau dalam bahasa masyarakat setempat disebut dengan Ancak.

Yuli Hastuti sangat mengapresiasi kegiatan pelestarian tradisi leluhur ini meski dalam keterbatasan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Ini merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan budaya bangsa. Merti desa, bersih desa, selamatan desa, sedekah bumi pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya, ” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Yuli mengajak masyarakat Desa Gunung Condong untuk menangkap peluang, terus kreatif, berinovasi, menggali dan mengembangkan potensi yang ada di desa Gunung Condong.

“Mari kita optimalkan potensi yang ada dengan dukungan dari semua lapisan masyarakat dan Pemerintah kita bangun Purworejo yang lebih maju,” katanya.

Baca juga: 1 Kelurahan dan 2 Desa di Nunukan Tidak Terjangkau PPDB Zonasi, Disdikbud Kaltara Siapkan Solusi

Sedekah bumi atau merti desa ini selain digelar di Gunungcondong juga terpantau digelar di desa lainnya, seperti Desa Wonosido, Desa Pamriyan, Desa Kemranggen, Desa Karanggedang, Desa Purbayan dan Desa Gunungteges serta desa lainnya yang ada di Purworejo.

Sementara itu Endah Hanna Rosanti, Kabid Pemasaran, Sumber Daya Pariwisata & Ekonomi Kreatif beberapa waktu yang lalu menghadiri Merti Desa Wonosido.

Dia menyebut event seni budaya seperti sedekah bumi merupakan daya tarik unggulan dari Desa-Desa yang melaksanakannya.

Merti desa diharapkan dapat dirangkai kedalam paket-paket pariwisata produk dari desa-desa wisata.

“Kegiatan tersebut bisa dirangkaikan dengan potensi daya tarik yg sudah ada. Contohnya kalau di Desa wonosido seperti curug siliala, aktivitas keseharian masyarakat dalam bercocok tanam kopi, cengkeh, pala dll,” katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Also Read

Bagikan: